Sinaraceh.com | Sabang - Ecoprint adalah salah satu oleh-oleh khas Sabang yang diproduksi oleh ibu-ibu rumah produksi UMKM, komunitas perempuan perajin di bawah Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPEMI). Ecoprint kain yang dibaluti dedaunan pada kainnya sehingga membentuk motif unik tanpa bahan kimia.
Ecoprint ini hadir sejak pandemi covid-19 saat ibu-ibu rumahan bingung harus berbuat apa akhirnya ada rumah produksi. Daun-daun tropis menjadi pemberdayaan ekonomi lokal ibu-ibu Sabang. Di tengah keterbatasan yang ada sejak saat itu, omset yang dihasilkan sebesar Rp100.000.000,00 pertahun. Bagi turis yang datang ke Sabang pasti membeli kain pengrajin ecoprint ini yang menggunakan metode alami Australia.
Keaslian kain motif ini dilakukan melalui tahap pencucian, perendaman, penataan, penggulungan, pengukusan, pemberian warna, dan penjemuran. Ecoprint tersebut dijual mulai harga Rp250.000,00 hingga Rp500.000,00. Ketua IPEMI Sabang, yakni Erna Vivilinda mengatakan bahwa tidak ada aktivitas yang dilakukan saat pandemi.
"Belajar otodidak dan melalui zoom menghasilkan 20 pengrajin, bahkan mereka mempunyai brand sendiri," ucapnya pada awak media saat kegiatan Bank Indonesia Provinsi Aceh bersama mitra jurnalis, Rabu (5/11/2025)
Tidak hanya itu, ia juga menyebut banyak orang luar yang menyukai produk ini karena tidak memakai bahan kimia. Daun-daun yang digunakan adalah daun-daun yang dipetik di pinggiran pantai secara bersama. Pun daunnya ramah lingkungan, dan kulit yang memakai produk kami tidak akan berbahaya.
"Kami terinspirasi orang luar Aceh membatik, jadi terbentuklah ecoprint ini yang bentuknya batik go green," pungkasnya. [Auliana Rizky]
