Sinaraceh.com | Banda Aceh - Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66 jatuh pada 25 Januari 2026 menjadi tonggak sejarah bagi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI). Organisasi profesi ini resmi meraih Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) Nomor 12608/R.MURI/I/2026 atas pelaksanaan edukasi gizi serentak di sekolah terbanyak, yang menjangkau 1.846 sekolah di 36 provinsi di seluruh Indonesia.
Rekor tersebut ditetapkan secara resmi di Jakarta pada 21 Januari 2026 sebagai pengakuan atas pelaksanaan edukasi gizi nasional yang digelar serentak pada Rabu (21/1/2026) bertemakan “Gizi Optimal Mewujudkan Generasi Emas 2045.” Kegiatan ini melibatkan lebih dari 55.000 ahli gizi sebagai tenaga edukator yang memberikan edukasi secara luring dan daring.
Program ini tercatat sebagai kegiatan edukasi gizi pertama di Indonesia yang dilaksanakan secara nasional, serentak, dan terkoordinasi dengan cakupan sekolah serta jumlah tenaga profesional terbesar. Materi edukasi menitikberatkan pada pemahaman gizi seimbang, pola makan sehat, aktivitas fisik, serta pembentukan perilaku hidup sehat sejak usia sekolah.
Provinsi Aceh menjadi salah satu daerah yang berkontribusi aktif dalam kegiatan nasional tersebut. Melalui DPD PERSAGI Aceh bersama seluruh DPC PERSAGI di 23 kabupaten/kota, edukasi gizi dilaksanakan di 65 sekolah dengan sasaran siswa dari jenjang SD, SLTP, hingga SLTA. Total peserta yang mengikuti kegiatan di Aceh mencapai 2.505 siswa.
Ketua DPD PERSAGI Aceh, Dr. Aripin Ahmad, S.SiT, M.Kes, Dietisien, AIFO menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen PERSAGI dalam meningkatkan literasi gizi sejak dini sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan berdaya saing.
“Edukasi gizi sejak usia sekolah adalah investasi strategis untuk menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045, rekor MURI ini menjadi bukti nyata peran aktif ahli gizi dalam mendukung agenda pembangunan kesehatan nasional,” ucapnya saat dikonfirmasi sinaraceh.com, Senin (26/1/2026) melalui whatsapp.
Penetapan Rekor MURI dilakukan setelah melalui proses verifikasi nasional yang mencakup cakupan wilayah, jumlah sekolah, serta keterlibatan tenaga ahli gizi secara serentak. Pengakuan ini menegaskan peran strategis PERSAGI dan seluruh jajarannya dalam menggerakkan edukasi gizi berskala nasional.
“Rekor ini bukan sekadar prestasi, tetapi tonggak sejarah gerakan edukasi gizi nasional demi mewujudkan generasi Aceh dan Indonesia yang sehat dan berkualitas,” tutup Dr. Aripin. [Auliana Rizky]
