Sinaraceh.com | Banda Aceh - Peringati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-66, Ketua DPD Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) Aceh, Dr. Aripin Ahmad, S.Si.T, M.Kes, Dietisien, AIFO mengatakan, secara umum masalah gizi di Aceh khususnya stunting pada balita masih menjadi tantangan serius karena belum mencapai target nasional.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting balita di Aceh memang menunjukkan tren penurunan, namun lajunya masih tergolong lambat. Pada tahun 2021 prevalensi stunting tercatat sebesar 33,2%, kemudian menurun menjadi 31,2% pada 2022, 29,4% pada 2023, dan 28,6% pada 2024 (Kementerian Kesehatan RI, SSGI 2021–2024).
Dalam empat tahun terakhir, rata-rata penurunan stunting di Aceh hanya sekitar 1,1% per tahun, sehingga masih membutuhkan upaya yang lebih keras, terintegrasi, dan berkelanjutan. Di sisi lain juga diperlukan penguatan intervensi spesifik, seperti pemenuhan gizi ibu hamil, bayi, dan balita, serta intervensi sensitif yang mencakup perbaikan sanitasi, akses air bersih, pendidikan gizi, dan penguatan ketahanan pangan keluarga.
Berdasarkan hasil penelitian yang pernah ia lakukan dalam beberapa tahun terakhir di Aceh melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan para pemangku kepentingan tingkat kabupaten serta pakar dari kalangan akademisi, masih ditemukan berbagai permasalahan mendasar yang berkontribusi terhadap tingginya stunting.
Pertama, pada level individu: Gizi ibu buruk (Kurang Energi Kronik/KEK, anemia), rendahnya pengetahuan gizi, Antenatall Care (ANC) dan inisiasi Menyusu Dini (IMD) tidak optimal, ASI eksklusif dan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) tidak sesuai, BBLR dan infeksi berulang. Kedua, pada tingkat keluarga: Pernikahan dini, jarak kehamilan pendek, dominasi pengasuhan oleh nenek, rendahnya peran ayah, pola makan keluarga tidak seimbang.
Ketiga, pada tingkat komunitas/masyarakat: praktik budaya dan pantangan makanan, anggapan stunting tidak dapat dicegah, rendahnya literasi gizi, keterbatasan air bersih, dan sanitasi. Keempat, pada tingkat layanan: cakupan dan kualitas layanan gizi rendah, pemantauan pertumbuhan lemah, keterbatasan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), instabilitas kader, koordinasi lintas sektor belum optimal. Kelima, pada tingkat kebijakan: Kemiskinan struktural, ketimpangan akses pangan bergizi, lemahnya integrasi kebijakan, ketergantungan program pada siklus politik.
"Hari Gizi Nasional ke-66 tahun ini menjadi momentum penting untuk mengingatkan kembali bahwa gizi adalah fondasi utama kesehatan dan kualitas sumber daya manusia,"ucapnya saat dikonfirmasi sinaraceh.com, Senin (26/1/2026) melalui whatsapp.
Bagi PERSAGI Aceh, ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi ajakan nyata kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap pola makan sehat dan gizi seimbang, terutama dengan memanfaatkan potensi pangan lokal yang kita miliki. Tema ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia, termasuk Aceh yang kaya akan sumber pangan lokal bergizi.
"Yang kita ingin tegaskan adalah gizi seimbang tidak harus mahal atau bergantung pada pangan impor, pangan lokal seperti ikan, sayur, buah, umbi, dan kacang-kacangan sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi jika dikonsumsi secara beragam dan seimbang," ujarnya lagi.
Dalam mendukung peringatan Hari Gizi Nasional ke-66, PERSAGI Aceh melaksanakan edukasi gizi serentak di sekolah-sekolah pada berbagai jenjang, mulai dari SD, SLTP hingga SLTA, yang dilaksanakan oleh ahli gizi di seluruh kabupaten dan kota. Edukasi dilakukan secara langsung melalui penyuluhan, diskusi interaktif, dan praktik sederhana seperti mengenal Isi Piringku dan contoh menu berbasis pangan lokal.
Selain di sekolah, PERSAGI Aceh juga melakukan kampanye konsumsi pangan lokal kepada masyarakat melalui posyandu, puskesmas, dan kegiatan komunitas. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya gizi seimbang, pemilihan bahan pangan lokal yang mudah didapat, serta cara pengolahan yang lebih sehat. Untuk memperluas jangkauan, PERSAGI Aceh berkolaborasi dengan dinas kesehatan, sekolah, tenaga pendidik, serta kader kesehatan sehingga pesan HGN dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, ibu, hingga keluarga secara luas. [Auliana Rizky]
