Banda Aceh, 14 April 2026 — Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh telah melaksanakan Pra Rapat Koordinasi Daerah (Pra-Rakorda) Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2026 di Banda Aceh, Selasa (14/4). Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi capaian tahun 2025 sekaligus menyelaraskan arah kebijakan dan implementasi program tahun 2026 di seluruh kabupaten/kota.
Pra-Rakorda diikuti oleh jajaran ASN Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, Kepala OPD KB/DP3AKB kabupaten/kota, mitra strategis lintas sektor, serta turut berhadir juga Bupati Aceh Tenggara, H. Muhammad Salim Fakhry, S.E., M.M. yang didampingi anggota DPRK Aceh Tenggara. Rangkaian kegiatan meliputi evaluasi program Bangga Kencana tahun 2025, pemaparan overview program 2026, penyerahan penghargaan, pengukuhan kelembagaan, hingga diskusi teknis lintas daerah. Sebelum sesi diskusi, dilakukan penandatanganan komitmen bersama pengelolaan program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh bersama seluruh Kepala OPD KB se-Aceh.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, Safrina Salim, S.K.M., M.Kes., dalam sambutan dan arahannya turut memberikan apresiasi kepada para penerima penghargaan pengelola program Bangga Kencana terbaik tingkat kabupaten/kota, baik kategori individu maupun organisasi. Ia juga menyoroti capaian generasi muda Aceh melalui program GenRe yang berhasil meraih Juara 1 Duta GenRe Nasional selama dua tahun berturut-turut.
“Prestasi ini bukan hanya membanggakan, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama untuk dipertahankan. Kita harus terus meningkatkan target capaian dan memperkuat kolaborasi lintas sektor agar program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting benar-benar berdampak luas bagi masyarakat,” ujar Safrina.
Sementara itu, Sekretaris Perwakilan BKKBN Provinsi Aceh, Ihya, S.E., M.M. dalam paparannya menegaskan bahwa capaian kinerja program menunjukkan tren positif, khususnya pada pelaporan fasilitas kesehatan yang secara umum telah melampaui 90 persen di seluruh lini layanan. Namun demikian, sejumlah indikator strategis masih memerlukan penguatan, terutama pada pelayanan KB baru, KB pasca persalinan, serta metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP).
“Capaian yang kita raih hari ini adalah hasil kerja kolektif. Namun ini bukan titik akhir, melainkan pijakan untuk memperkuat intervensi yang lebih tepat sasaran, terutama di wilayah dengan capaian yang masih rendah,” tegasnya.
Data evaluasi menunjukkan bahwa meskipun capaian pelaporan dan partisipasi program relatif tinggi, masih terdapat disparitas antarwilayah yang menjadi fokus intervensi pada tahun 2026. Selain itu, program pembangunan keluarga seperti BKB, BKR, BKL, UPPKA, hingga pemanfaatan aplikasi ELSIMIL terus diperkuat sebagai bagian dari strategi hulu dalam menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas keluarga.
Melalui Pra-Rakorda ini, BKKBN Aceh juga menegaskan pentingnya penguatan program prioritas nasional, seperti Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) dan Lansia Berdaya (SIDAYA), yang dilaksanakan melalui kolaborasi dengan TP-PKK, Kementerian Agama, serta berbagai mitra strategis lainnya. Selanjutnya, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh capaian angka, tetapi juga oleh konsistensi implementasi, kualitas layanan, dan kekuatan kolaborasi lintas sektor dalam menjawab kebutuhan riil masyarakat.[]
