Sinar aceh.com | Banda Aceh - Anak berkebutuhan khusus istilah lain untuk anak dengan keterbatasan, baik secara fisik maupun emosional yang berpengaruh secara signifikan dalam proses tumbuh kembangnya. Hal inilah yang menjadi alasan mereka membutuhkan bantuan dan dukungan ekstra untuk mencapai potensinya.
Meski anak berkebutuhan khusus terlihat berbeda dari anak-anak pada umumnya, tetapi mereka memiliki hak yang sama dengan anak lain. Misalnya, hak untuk mendapatkan pengasuhan yang layak serta mengembangkan minat dan potensi yang dimiliki. Jangan sampai ada pemikiran bagi orang tua atau masyarakat mereka tidak penting untuk mendapatkan pendidikan.
Dr. Aishah, M.Pd. Pemimpin Komunitas, Aktivis Sosial, dan Advokat Inklusivitas serta pemerhati kesehatan mental masyarakat menyampaikan pendidikan itu adalah hak semua anak tanpa melihat keterbatasannya. Jadi, jika ada yg beranggapan pendidikan bagi anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) tidak penting karena mereka dianggap "tidak normal" merupakan stigma yang perlu diluruskan. Setiap anak, terlepas dari kondisi fisik, intelektual, maupun perkembangan yang dimilikinya.
Anak-anak ini memiliki potensi, kemampuan, dan keunikan yang dapat berkembang apabila diberikan kesempatan yang tepat. Dalam perspektif psikologi perkembangan, setiap individu memiliki tugas perkembangan dan kapasitas untuk bertumbuh sesuai dengan tahap kehidupannya. Perkembangan manusia tidak dapat diukur hanya dari satu standar yang sama untuk semua orang. Anak-anak SLB mungkin memiliki cara belajar yang berbeda, kecepatan yang berbeda, atau kebutuhan khusus tertentu, tetapi hal tersebut tidak menghilangkan hak mereka untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan diri.
"Saya melihat bahwa pendidikan bagi anak SLB bukan hanya sekadar proses akademik, melainkan sarana untuk membangun kemandirian, harga diri, keterampilan sosial, serta kemampuan hidup yang akan membantu mereka berfungsi secara optimal di masyarakat," ucapnya saat diwawancarai sinar aceh.com pada Senin (22 Juni 2026).
Sebut Dr. Aishah lagi, banyak anak berkebutuhan khusus yang memiliki bakat luar biasa dalam bidang seni, musik, olahraga, keterampilan vokasional, bahkan kemampuan interpersonal yang sangat baik. Potensi-potensi tersebut hanya dapat muncul apabila lingkungan memberikan dukungan, bukan penolakan. Sering kali yang menjadi hambatan terbesar bukanlah keterbatasan yang dimiliki anak, melainkan stigma sosial yang dilekatkan kepada mereka.
Oleh karena itu, ketika ada masyarakat atau orang tua lebih fokus pada kekurangan dibandingkan kemampuan yang dimiliki, maka kesempatan anak untuk berkembang menjadi semakin sempit. Sebaliknya, ketika lingkungan memberikan penerimaan, penghargaan, dan akses pendidikan yang layak, anak-anak tersebut mampu menunjukkan bahwa mereka juga dapat berprestasi, berkarya, dan memberikan kontribusi yang bermakna bagi keluarga maupun masyarakat.
Ia berpendapat bahwa pendidikan bagi anak SLB sama pentingnya dengan pendidikan bagi anak lainnya. Mereka bukan individu yang harus dikasihani atau dipinggirkan, melainkan individu yang memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang, dan mencapai kualitas hidup terbaik sesuai potensi yang mereka miliki.
"Tugas kita sebagai masyarakat adalah menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung setiap anak agar tumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri," pungkasnya. [Reporter : Auliana Rizky]
