-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Prof. Marniati: Damai Aceh Harus Hadirkan Kesejahteraan dan Masa Depan Anak Muda

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01.28 WIB | Last Updated 2026-08-16T08:28:38Z
BANDA ACEH – Momentum 21 Tahun Damai Aceh dinilai harus menjadi ruang refleksi sekaligus titik penguatan komitmen seluruh elemen untuk memastikan perdamaian benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat. Ketua Umum Partai Perjuangan Aceh (PPA), Prof. Adjunct Dr. Marniati, S.E., M.Kes, menegaskan bahwa perdamaian bukan hanya sesuatu yang diperingati setiap 15 Agustus, tetapi harus terus dirawat melalui kebijakan dan perjuangan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.

Dalam wawancara khusus, Prof. Marniati mengatakan perjalanan 21 tahun perdamaian Aceh patut disyukuri sekaligus dijaga dengan sikap bijaksana. Menurutnya, agenda implementasi perdamaian harus terus diperjuangkan secara bertahap dan kolektif, dengan menjunjung tinggi kejujuran, amanah, serta aspirasi rakyat. Ia mengingatkan seluruh pihak agar tidak mudah terjebak dalam provokasi karena masyarakatlah yang pada akhirnya akan menanggung dampaknya.

Prof. Marniati menegaskan PPA berkomitmen tetap berada di barisan rakyat untuk mendorong Aceh menuju kesejahteraan dalam bingkai NKRI. Menurutnya, hasil perdamaian harus mampu diterjemahkan dalam penguatan ekonomi masyarakat, pendidikan yang berkualitas dan mengikuti perkembangan zaman, layanan kesehatan berbasis teknologi, perluasan lapangan pekerjaan, hingga pengurangan kemiskinan secara nyata dan terukur.

Ia optimistis perdamaian Aceh dapat menjadi stimulus besar bagi kemajuan daerah apabila dikelola secara realistis, solutif, dan berpihak kepada kepentingan rakyat. Karena itu, PPA, kata Marniati, terus mendorong program politik yang menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan kelompok. Kepercayaan masyarakat terhadap partai lokal juga harus dijawab dengan kerja konkret dalam memperjuangkan kemakmuran dan keadilan sosial secara luas.

Terkait hubungan antarpartai lokal, Prof. Marniati menilai sudah saatnya para pemimpin parlok duduk bersama dalam semangat musyawarah untuk membahas berbagai persoalan kekinian yang semakin kompleks. Pendewasaan politik, komunikasi lintas partai, serta kolaborasi tanpa sekat antara partai lokal dan Pemerintah Aceh dinilainya menjadi kebutuhan penting, terutama untuk menghadapi persoalan kemiskinan, pengangguran, pembangunan ekonomi, serta berbagai tantangan sosial lainnya.

Menurutnya, PPA mendorong politik yang berpijak pada kearifan lokal sekaligus terbuka terhadap kolaborasi nasional dan internasional untuk mempercepat kemakmuran masyarakat. Ia berpandangan bahwa Aceh membutuhkan kebijakan yang tidak berhenti pada wacana, tetapi mampu menjawab aspirasi rakyat melalui langkah yang terukur, efektif, adil, dan berkelanjutan. Kolaborasi politik harus diarahkan untuk menyelesaikan persoalan rakyat, bukan sekadar memperkuat kepentingan kelompok.

Kepada generasi muda Aceh, Prof. Marniati memberikan pesan khusus agar memperkuat edukasi politik sekaligus membuka cakrawala berpikir secara global. Menurutnya, sejarah Aceh menunjukkan bahwa politik dapat menjadi jalan perjuangan, sementara keberadaan partai lokal merupakan ruang strategis yang tidak dimiliki semua daerah di Indonesia. Generasi muda dapat memanfaatkan ruang tersebut untuk menyampaikan gagasan, mengembangkan aspirasi berbasis nilai kearifan lokal, serta membawa potensi Aceh menuju pentas ekonomi dan bisnis yang lebih luas.

Prof. Marniati menegaskan anak muda harus menjadi ujung tombak perubahan Aceh. Karena itu, persoalan pengangguran, kemiskinan, dan keterbatasan akses pendidikan berkualitas harus menjadi agenda serius dalam memaknai perdamaian. “Bagaimana mungkin kita bicara masa depan sementara generasi muda masih terbelenggu dan terancam kesulitan mendapatkan pekerjaan?” ujarnya. Menurutnya, martabat Aceh akan semakin kuat apabila lahir pemimpin-pemimpin yang berani, berintegritas, berwawasan global, serta benar-benar menempatkan kepentingan rakyat sebagai tujuan utama perjuanganur.
close