-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Suryadi Djamil: Aceh Kehilangan Tokoh Perdamaian dan Pembangunan, dr. Zaini Abdullah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04.17 WIB | Last Updated 2026-06-13T11:36:57Z


BANDA ACEH — Kabar wafatnya mantan Gubernur Aceh dr. H. Zaini Abdullah, Sabtu (13/6/2026), membawa duka mendalam bagi masyarakat Aceh. Sosok yang dikenal sebagai dokter, pejuang, sekaligus tokoh perdamaian itu meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan sejarah Aceh modern.

Tokoh masyarakat Aceh, Suryadi Djamil, menyebut kepergian dr. Zaini Abdullah sebagai kehilangan besar bagi rakyat Aceh. Menurutnya, almarhum bukan hanya seorang mantan kepala daerah, tetapi juga salah satu figur penting yang ikut mengantarkan Aceh menuju masa damai setelah puluhan tahun dilanda konflik.

“Kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya dr. H. Zaini Abdullah. Beliau bukan hanya mantan gubernur, tetapi juga tokoh yang ikut melahirkan perdamaian Aceh,” ujar Suryadi Djamil.

Bagi Suryadi, perjalanan hidup dr. Zaini Abdullah adalah kisah pengabdian yang panjang. Di tengah konflik Aceh, almarhum memilih meninggalkan tanah kelahirannya dan menetap di Swedia. Di negeri itu, ia terus berjuang bersama para tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), termasuk Wali Negara Aceh, Hasan di Tiro, hingga akhirnya perdamaian yang kini dirasakan masyarakat Aceh dapat terwujud.

“Beliau telah banyak berbuat untuk bangsa Aceh, baik melalui pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan kesehatan, maupun perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat dan mantan kombatan,” kata Suryadi.

Jejak pengabdian dr. Zaini Abdullah juga terlihat ketika memimpin Aceh pada periode 2012–2017. Pada masa pemerintahannya, sejumlah proyek strategis diwujudkan, mulai dari pengembangan kawasan Masjid Raya Baiturrahman, pembangunan Flyover Simpang Surabaya, Underpass Beurawe, Jembatan Lamnyong, hingga Jembatan Krueng Cut.

Namun, bagi banyak orang, warisan terbesar yang ditinggalkan almarhum tidak hanya berupa bangunan fisik. Sebagai seorang dokter, dr. Zaini dikenal memiliki perhatian besar terhadap pelayanan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Kepeduliannya juga tercermin dalam upaya memperhatikan nasib mantan kombatan GAM sebagai bagian dari proses rekonsiliasi pascaperdamaian.
Lahir di Pidie pada 24 April 1940, dr. Zaini Abdullah menempuh pendidikan dari Sekolah Rakyat Beureunuen, SMP Sigli, SMA Kutaraja Banda Aceh, hingga menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara pada 1972. Kariernya sebagai tenaga medis dimulai di Aceh sebelum kemudian melanjutkan pengabdian di Swedia dan menempuh pendidikan spesialis Family Doctor di Karolinska Universitets Sjukhus Huddinge, Stockholm.

Dalam perjalanan perjuangan politik Aceh, namanya dikenal sebagai Menteri Kesehatan GAM dan salah satu tokoh yang terlibat dalam proses menuju perdamaian antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia. Puncak pengabdiannya di pemerintahan ditandai dengan terpilihnya sebagai Gubernur Aceh ke-16 pada 2012.

Kini, sosok yang dikenal sederhana dan tenang itu telah berpulang. Ia meninggalkan seorang istri, Niazah A. Hamid, serta tiga orang anak, Niza Ratna Zaini, Hasnita Zahra Zaini, dan Sri Wahyuni Zaini.

Bagi Suryadi Djamil, kepergian dr. Zaini Abdullah bukan hanya kehilangan bagi keluarga, melainkan juga bagi seluruh rakyat Aceh yang pernah menyaksikan dedikasi dan pengabdiannya.

“Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi seluruh rakyat Aceh. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya,” tutup Suryadi Djamil.

Di tengah duka yang menyelimuti, nama dr. H. Zaini Abdullah akan tetap dikenang sebagai seorang dokter yang mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan, seorang pejuang yang ikut mengantarkan perdamaian, serta seorang pemimpin yang meninggalkan jejak pembangunan bagi Aceh.[]
close