Sejarah Aceh Tenggara mencakup perjalanan panjang dari masa kepemimpinan adat tradisional, perlawanan terhadap kolonialisme, hingga terbentuknya pemerintahan daerah yang mandiri.
1. Era Kejuruan Adat
Sebelum Abad ke-20
Masyarakat Alas hidup dalam tatanan adat yang terbagi ke dalam beberapa wilayah kepemimpinan tradisional bernama Kejuruan. Terdapat empat kejuruan utama yang memegang kekuasaan politik dan adat di Tanah Alas, yaitu Kejuruan Bambel, Kejuruan Batu Mbulan, Kejuruan Muara Situlen, dan Kejuruan Batu Mbeline.
2. Invasi Belanda & Perang Benteng Kuto Reh 1904
Pasukan kolonial Belanda di bawah pimpinan Jenderal G.C.E. van Daalen melakukan ekspedisi militer ke Tanah Alas. Peristiwa paling bersejarah terjadi di Benteng Kuto Reh, tempat rakyat Alas melancarkan perlawanan gigih demi mempertahankan tanah kelahiran. Meskipun pertahanan runtuh akibat ketimpangan persenjataan, peristiwa ini menjadi simbol keberanian Suku Alas dalam sejarah perjuangan Nusantara.
3. Administrasi Onderafdeeling Alas-landen 1904–1942
Setelah menduduki Tanah Alas, pemerintah kolonial Belanda menggabungkan wilayah ini ke dalam struktur administratif Onderafdeeling Alas-landen yang berpusat di Kutacane bawah kendali Controlleur. Struktur ini bertahan hingga masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan Indonesia.
4. Pemekaran & Peresmian Kabupaten 26 Juni 1974
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1974, Aceh Tenggara resmi mekar dari Kabupaten Aceh Tengah menjadi kabupaten yang berdiri sendiri dengan ibu kota di Kutacane. Penetapan ini ditandai dengan semboyan daerah “SEPAKAT SEGENEP” yang bermakna bersatu dalam persatuan untuk mencapai kebahagiaan bersama.
5. Era Modern & Pusat Ekowisata Abad ke-21
Aceh Tenggara berkembang menjadi simpul ekonomi pertanian vital dan pintu gerbang utama konservasi keanekaragaman hayati dunia melalui Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).
Perkembangan Sektor Kunci Aceh Tenggara
Sejak resmi menjadi kabupaten tersendiri pada tahun 1974, Aceh Tenggara mengalami transformasi signifikan di berbagai bidang
Pertumbuhan Ekonomi dan Pertanian
Kondisi tanah vulkanik yang subur menjadikan Aceh Tenggara sebagai salah satu lumbung pangan utama di Aceh. Komoditas unggulan daerah ini meliputi.
- Tanaman Pangan: Padi, jagung, dan kedelai.
- Perkebunan: Kakao, kemiri, kopi, karet, kelapa sawit, dan nilam.
- Hortikultura: Buah-buahan lokal seperti durian Alas, rambutan, dan duku.
- Jalur Strategis Perhubungan dan Perdagangan
Secara geografis, Aceh Tenggara berada di koridor yang menghubungkan Provinsi Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara (jalur Kutacane–Langkat/Medan). Aksesibilitas darat yang terus ditingkatkan memperlancar arus barang, jasa, dan mobilitas penduduk antarprovinsi.
Konservasi dan Ekowisata Dunia
Lebih dari separuh wilayah Aceh Tenggara masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Ketambe. Terkenal secara internasional sebagai pusat penelitian primata dan stasiun pengamatan orangutan Sumatra (Pongo abelii), serta tujuan utama jungle trektrekin.
Wisata Arung Jeram: Sungai Lawe Alas menjadi salah satu lokasi arung jeram (white water rafting) terbaik di Indonesia.
Kebudayaan dan Kemajemukan Sosial
Meskipun Suku Alas merupakan penduduk asli, Aceh Tenggara dikenal sebagai daerah yang sangat heterogen dan toleran. Berbagai suku seperti Gayo, Singkil, Batak Karo, Jawa, dan Aceh Pesisir hidup berdampingan secara harmonis. Warisan budaya seperti seni Pelebat (seni ketangkasan pedang/bambu), Tari Landok Sampot, serta tradisi lisan Canang Situ terus dilestarikan melalui gelaran festival kebudayaan daerah. (*)
